Oleh: tettystak | Maret 18, 2008

“Kalau Flu Biasa, dengan Kerokan Saja Sudah Sembuh”

Misteri Los Alamos dari Siti Fadilah Supari (3)
Tulisan III
Wwcra (Edisi No. 44/04-10 Maret 2008)
menteri.jpg Siti Fadilah Supari, Menteri Kesehatan RI

“Kalau Flu Biasa, dengan Kerokan Saja Sudah Sembuh”

Rumahnya dinasnya terletak di bilangan jalan Denpasar, Kuningan, Jakarta Selatan. Kamis malam pekan lalu, FORUM bertandang ke rumah yang ditempati oleh Menteri Kesehatan RI, Siti Fadilah Supari.

Begitu masuk, dia sedang sibuk nelpon. FORUM dipersilahkan masuk ruang tamu utama terlebih dulu oleh ajudannya, bernama Ade. Sepuluh menit kemudian, Siti belum juga muncul. Tapi suaranya yang sedang nelpon sayup-sayup terdengar dari ruang tamu utama. Dinding di ruang dihiasi oleh beberapa lukisan Siti Fadilah yang terpahat dalam kanvas. Satu diantaranya, lukisan saat dia masih menjadi mahasiswi di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM).

FORUM amati: parasnya cantik di masa mudanya. Postur tubuhnya ramping. Satu lagi lukisan yang FORUM amati, lukisan Siti dengan beberapa pasien dengan ornamen abstrak. FORUM tak bisa menangkap maknanya. Maklum saja–sebagaimana tertera di sebelah kiri lukisan– yang melukisnya adalah seniman kondang: Sujiwo Tejo.

Jarum jam berjalan. Tak berapa lama FORUM amati di sekeliling ruang utama, datanglah dr. Toyibi, mantan ketua tim kedokteran almarhum Soeharto. Dia juga dokter spesialis jantung, sama dengan sang rekan, Siti Fadilah Supari. Dr. Toyibi ditemani rekannya dari Jawa Timur bernama Munzir.

Satu lagi, adik laki-laki Siti Fadilah juga ada disitu. Diantara tiga lelaki ini, dialah yang paling antusias. Ia adalah jebolan Astronomi dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

Sejurus kemudian, barulah Siti mengakhiri perbincangan telephonnya. Dia bilang, “Hp saya ini selalu online. Itu tadi juga dari wartawan”. Kadang Siti kesal, karena apa yang disampaikan tak sesuai yang diberitakan. Yang paling gencar malah bukan dari pers Indonesia, tapi luar negeri, terutama Amerika dan Australia. Keduanya masih ngotot bertanya maksud Siti soal Los Alamos. Mahluk apa itu? Kepada Alfi Rahmadi dari FORUM, berikut petikannya:

Apa motivasi Anda menulis buku ini?

Saya menjalani fungsi saya sebagai Menteri. Ngurus dari Tsunami dan flu-burung.jpgsegala kejadian kesehatan. Begitu adanya Flu Burung, memang belum pernah di Indonesia. Obat-obat yang dikenal sebagai untuk Flu Burung adalah Tamiflu. Saya ingin membeli obat itu. Tapi habis. Lho kok habis? Siapa yang beli, wong pasiennya saya (Indonesia-red) , tapi yang beli seperti Amerika, Jepang, dan negara-negara kaya dan negara itu tidak kena Flu Burung. Itu pertanyaan pertama. Saya sedih banget. Akhirnya saya dapat Tamiflu dari India sebagai buffer stok, atau tidak boleh dijual di apotek. Dan satu-satunya virus sekarang yang masih tersisa dan tidak resisten terhadap Tamiflu adalah virus kita saja. Tapi tiap hari pasiennya tambah. Tapi eh..malahan ada orang yang nawarin saya obat. Orangnya dari Prancis. Dia bawa vaksin. Dari mana vaksin Anda tanya saya. Nah, dokter jarang tahu bawah vaksin itu juga berasal dari virus. Dia bilang virus vietnam (Vietnam strain). Padahal dia dari orang dari negara kaya, tapi jualan vaksin di vietnam.

Apa hubunganya dengan kita di Indonesia?

Vietnam sama saja dengan kita. Sama-sama ironi. Kita dan Vietnam juga kirim mengirim virus (H5N1) ke WHO CC. Tapi kemana virus itu sekarang. Eh…tahu-tahu sudah beredar di dunia. Harganya mahal. Sementara korban Vietnam mati karena Flu Burung ditengah orang kaya dari Eropa yang mengambil virus dari Vietnam. Vaksin itu satu dosisnya 30 US Dollar. Kalau dunia ini 6 miliar orang, sedang stok yang dibutuhnya itu 10 persen, berarti 600 juta dosis yang diperlukan. Itu jumlah maksmimal. Wah…saya glek-glek (geleng-eleng) . Kalau begitu ini terjadi suatu penipuan, pembohongan, perampasan, pemaksaan, dan sebagainya. Saya lihat kok kita mau saja ngasih begitu saja ke WHO. Bukankah kita bisa mendiagnosis sendiri. Tetapi harus dikirim. Kalau kita diagnosis sendiri, ya tidak diakui. Akhirnya ya dikirim.

Lalu bagaimana kasus di Tanah Karo (2006) sampai keluar rilis sudah menjangkit dari human ke human (manusia ke mausia)?

Iya. dari 8 orang yang terkena, 7 orangnya meninggal. Ini cluster terbesar di dunia sehingga kita dituduh orang bahwa penuluran virus sudah human to human (penularan manusia ke manusia) karena jangak waktu kenanya berdekatan satu sama lain. Sampai disiar di CNN. Presdien kita khawatir.

Apa konsekuensinya jika sudah menular dari manusia ke manusia?

Kita diembargo. Dari Indonesia ga boleh pergi ke luar negeri. Begitu pula sebaliknya. Ekonomi pasti mati. Bangkrut habis. Saya tidak bisa bayangkan. Lalu presiden panggil saya. Saya yakinkan ke presiden bahwa pendapat penularan demikian adalah salah. Sebab kalau benar, yang pertama kali terjangkit tentu adalah tenaga medisnya lebih dulu. Dan penularannya bukan 8 orang tapi sampai ribuan orang. Dari sisi bentuk virusnya juga sudah berbeda. (sambil memperagakan tangannya). Presiden lalu mau menuntut ke PBB. Saya bilang jangan. Akhirnya saya cek sendiri. Saya kontak Professor Sangkot Marzuki. Dia ini pimpinan laboratorium Eijkman, ilmuwan (molecular biologist), sekaligus teman saya. Saya minta tolong ke Pak Marzuki untuk membuat cek sequencing (pemilahan) spesimen Tanah Karo itu. Alhamdulillah bersedia. Sambil menunggu hasil dari Pak Marzuki, pikiran saya hanya fokus disini.

Dalam halaman 10 di bukunya, Siti Fadilah menulis: (sambil memanti hasil)… Kemudian konperensi pers saya gelar. Ratusan wartawan dari dalam maupun luar negeri berduyun-duyun datang. Saya nyatakan bahwa berita tentang penularan Flu Burung secara langsung dari manusia ke manusia di Tanah Karo adalah tidak benar. Karena bila benar; korban yang pertama adalah tenaga kesehatan yang merawat mereka. Dan kematian di daerah korban akan sangat banyak bukan puluhan tapi mungkin ribuan. Yang paling penting untuk menyimpulkan penularan langsung dari manusia ke manusia tidak cukup hanya berdasarkan data epidemiologi seperti yang dilakukan oleh WHO. Tetapi harus dikuatkan dengan data virologi yang merupakan bukti pasti.

Dengan pernyataan saya itu, dunia mulai ragu. Dunia mulai mempertanyakan. Telepon genggam saya terpegang erat di tangan selama 24 jam, karena pasti akan datang pertanyaan dari mancanegara atau dari mana-mana. Ternyata betul. Dimulai dari kantor kantor berita, radio dan tv, “Reuter” Inggris, “AFP” Perancis, “Xinhua” Cina, “Kyodo” Jepang, “ABC” Australia, “BBC” London, Puerto Rico, “Aljazeera”, “CNN” dan tentunya kantor berita nasional “Antara”, serta banyak lagi. Mereka ingin mengkonfirmasikan berita tersebut.

Telepon genggam saya sangat membantu meredam isu yang sangat berbahaya tersebut. Wah, “untung” wartawan dalam negeri tidak begitu “tanggap” menangkap isu yang sensitif ini. Sehingga tidak sangat merepotkan saya dan staf saya yang memang sudah sangat repot. Tidak ingat lagi hanya berapa jam saja tiap malam saya bisa tidur. Bahkan saya takut tidur karena takut kehilangan momentum perkembangan Flu Burung yang memang sangat menakutkan.

Ternyata hasilnya?

Bukan human to human tapi masih dari animal to human (binatang ke manusia). Berita itu pembohongan dan penipuan. Kurang ajar ini. Ada sesuatu yang disembunyikan. Saya bilang ke WHO (perwakilan Indonesia), mana virus saya. Saya juga tuntut WHO, bahwa saya membuktikan sequencing virus Tanah Karo adalah dari hewan ke manusia. Ngapain kamu bilang dari manusia ke manusia. Mana sekarang punyaku. WHO diam saja. Saya marah, saya usir dia. Pulang kamu! Kamu mencelakakan negara saya. Saya juga minta ke WHO Regional agar staf WHO Indonesia yang nyebar berita itu harus bertanggung jawab. Eh tiba-tiba, Straits Times dari Singapura (27 Mei 2006) beri kabar, H5N1 Tanah Karo di labotarium Los Alamos. Los alamos adalah labotariun yang membuat senjata yang mengebom hirosima dan nagasaki. Ngeri toh..

Anda sudah cek terhadap berita itu?

Cek di internet kan ada sampai sekarang. Dan ternyata bukan saja H5N1 Tanah karo di situ (Los Alamos) tapi semua H5N1 Indoensia (58 virus). Saya gemetar. Negara lain saya engak tahu. Tapi mengapa sih ada disitu?

Los Alamos sudah tutup, tapi data sequencing strain Indonesia pindah ke 2 tempat. Dalam buku Anda ditulis pindah ke GISAID dan Bio Health Security (BHS). Bagaimana Anda tahu bahwa BHS ini adalah labotairum penelitian senjata biologi di bawah Departemen Pertahanan AS di Pentagon?

Jadi setiap kali saya tuntut untuk mengembalikan semua H5N1 Indonesia, ternyata ada GISN (Global Influenza Surveilance Network). GISN itu adalah perangkat yang mengharuskan kita untuk kirim semua H5N1. Jangankan H5N1, virus flu biasa saja harus dikirim ke WHO dengan adanya GISN ini. Dan itu sudah berlangsung sejak 50 tahun, dan ada 110 negara yang punya Influenza biasa harus mengirimkan spesimen virusnya ke WHO. Tapi setiap kita mau ambil strain kita, WHO ga tahu. Ini dia pasti perangkatnya Amerika hingga sampai ke Los Alamos. Los Alamos ini labotarium private. Tapi di bawah Menteri Energi AS. Aku ga tahu hubungannya kok bisa ke Alamos? Masa aku ga boleh bertanya kemana barangku. Kepada siapa saya bertanya? Ga ada. Sekali lagi, WHO ditanya ga tahu. Ini nih..dia…( skandal) hingga sampai ke Los Alamos. Menurut saya ini gila.

Halaman 13, Siti Fadilah menulis: Yang bisa dikatakan sebagai skandal adalah bagaimana WHO CC mengirimkan data sequencing DNA ke Los Alamos. Apa hubungannya? Apa lagi sekarang di BHS? Tetapi barangkali hal inilah yang bisa menjawab; mengapa yang saya tuntut WHO, tapi kok yang berhadapan dengan kita adalah negara adidaya Amerika Serikat. Tadinya saya heran. Tapi sekarang saya tidak heran lagi.

Kemungkinannya skenarionya seperti ini: Virus dari affected countries dikirim ke WHO CC melalui mekanisme GISN. Tetapi ke luarnya dari WHO CC ke Los Alamos melalui mekanisme yang semua orang tidak tahu. Dan di WHO CC, virus diproses untuk dijadikan seed virus dan kemudian diberikan ke perusahaan vaksin untuk dibuat vaksin. Namun di lain pihak, kita juga tidak tahu apakah juga dijadikan senjata biologi. Tampak sekali pintu ketidak-transparana n adalah GISN. Padahal, ketidak transparanan akan membahayakan umat manusia di dunia. (Tentang kemungkinan skandal ini, baca juga di Bab II, judul: Dari Jkaarta ke Jenewa)

Lalu apa tindakan Anda saat ada indikasi ke Los Alamos?

Saya terus minta data H5N1 kita. Harus transparan. Coba kirim ke Gane Bank. Lalu saya bikin pernyataan data harus dibuka ke Gen Bank. Lalu dibuka di Gane Bank. Saya kirim virus yang masih kita punya ke Gane Bank. Dan semua ilmuan bisa mengaksesnya (sebelumnya mereka juga tidak bisa buka data sequencing DNA H5N1 Indosnia di WHO). Indonesia saat itu diapresiasi luar biasa bahwa kita mendobrak transparansi. Jadi saya orang pertama yang menaruh data primer ke Gane Bank. Ternyata setelah diteliti banyak ilmuan dunia penularannya juga bukan human ke human.

Halaman 12, Siti Fadilah menulis: Majalah the Economist, London, Inggris, yang sangat kredibel di dunia, menyatakan bahwa Menteri Kesehatan Republik Indonesia memerangi Flu Burung bukan hanya dengan obat-obatan tetapi juga dengan ketransparansian (Pandemics and Transparency, the Economist, August 10, 2006).

Mestinya virus itu dibawah wewenang Departemen Kesehatan (AS)? Apa komentar Menteri Kesehatan AS ke Anda?

Nanti dulu. Ceritanya mirip bioskop ya. (ha..ha..) nanti ada kaitannya, tapi sebelum sampai ke situ, saya stop pengiriman strain kita ke WHO (Desember 2007). Kalau saya kirim berbahaya. Karena pertama, bisa dikembangkan sebagai senjata biologis, dan akan menghancurkan umat manusia. Kedua, bisa dibikin kita sakit dan dia bisa jualan vaksin. Ketiga, ini yang paling rendah, kemungkinan mereka hanya jual vaksin saja. Yang terakhir inipun masih bisa menindas. Saya mulai keras.

Lalu pada suatu hari (11 November 2006), orang WHO, namanya David Heymann (Assistant to Director General WHO yang mengurus Flu Burung) mau datang ke Indonesia. Waktu ketemu saya bilang, eh..saya sekarang sudah punya vaksin. Ibu kerjasama degan siapa? Rahasia saya bilang. Dia mendesak, dari siapa bu? Rahasia, kata saya. Saya pancing dia. Dia datang dengan bawa duit nawari untuk nyumbang membuat vaksin, tapi seasonal flu vaccine atau vaksin untuk flu biasa. Oh…aku tidak butuh. Yang aku butuh H5N1 Indonesia (strain Indonesia). Bu, ini program WHO. jadi Indonesia harus buat. Indonesia punya kapasitas punya perusahaan vaksin yang bagus (PT. Bio Farma berpusat di Bandung-red) . Saya tidak butuh sumbanganmu. Sumbanganmu simpan saja. Pokoknya saya butuh H5N1, karena rakyatku membutuhkan itu. Kalau flu biasa, rakyatku dengan kerokan saja sudah sembuh (ha..ha..). Dia sengaja bikin saya keder (takut) dan dapat sistem atau mainan vaksin (WHO). Saya bilang tidak. Lalu dari situ saya dijelek-jelek media asing. Menteri Kesehatan Indonesia tidak mau kirim virus, itu membahayakan dunia. Satu bulan lalu terjadi tembak-menembak diplomasi.

Dalam buku Anda, Indonesia kerjasama bikin virus dengan Baxter International Inc., dari Chicago (Amerika Serikat) sebagai berganning power. Maksudnya?

Waktu itu (akhir 2005), Baxter International promosi buat vaksin. Tapi masih menawarkan dengan Vietnam strain. Dari situ saya berfikir, bahwa saya tahu persis kasus di Indonesia dengan Vietnam berbeda dilihat dari angka kematiannya. Tipe virusnya juga beda. (Virus Flu Burung di Indonesia disebut sebagai Clade2 sedang di Vietnam termasuk Clade1). Waktu berhadapan dengan mereka, saya membuat semacam hipotesis, bahwa strain Indonesia lebih virulen (ganas) dari pada yang lainnya. Kalau dibuat vaksin nantinya akan lebih cross protective dibanding dengan lainnya. Mereka terkejut. Maksudnya?

Vaksin kita bisa digunakan lebih luas dibandingkan dengan vaksin dari strain lainnya. Lima bulan setelah itu, hipotesis saya terbukti. Hal ini diteliti oleh Baxter International tadi, termasuk WHO. Dunia terkejut bukan main. Ternyata ada vaksin Flu Burung untuk manusia yang kekuatannya lebih bagus dari yang dimiliki oleh negara lain. Nah disinilah Menteri Kesehatan Amerika (Michael O. Levvit) pesan 20 juta dosis vaksin dengan strain Indonesia kepada Baxter. Diar sinilah kita melakukan Bargainning power untuk setiap deal dengan pihak manapun. Dari situ pula saya tahu, bahwa virus Indonesia yang pertama dibuat vaksin oleh WHO dibanding negara lain (berinitial O5O5). Sejak itu saya baru tahu jawabanya, mengapa WHO ngotot.

Mengapa untuk kasus Flu Burung Anda sampai ke Iran segala?

Saya diundang untuk seminar disana setelah data kita dikirim ke Gane Bank. Mereka sangt mendukung Indonesia. Bahkan, mereka siap berikan pengacara jika suatu saat kita mau gugat siapa yang merugikan Indonesia.

Bagaimana kronologis kontroversi buku Anda ini pasca launching?

Sebenarnya Amerika biasa-biasa saja. Yang terus memburu dari pers Australia. Karena dari awal, misalnya saat Indonesia banjir Februari 2007, saya diinterview secara online. Tapi jawaban saya esoknya dimuat sama sekali berbeda. Saya dituduh macam-macam. Menghambat penelitian WHO lah. Dan lain-lain. Jadi waktu terbit yang wawancara saya itu tadi kembali telepon bertanya isi buku. Saya jawab apa adanya, yaitu kejadian-kejadian yang dulu. Tapi lagi-lagi, dia plintir jawaban saya. Dia bilang saya menuduh Amerika mengembang senjata biologis. Padahal dalam buku saya hanya menulis mempertanyakan peneliti WHO yang datanya tidak dibuka itu.

Jangankan sebelum launching, waktu diplomasi, Indonesia dibilang teroris, dan jangan-jangan Menteri Kesehatannya itu teroris. Ini serius. Saudara-saudara saya pake jilbab semua. Diboleg-bloger saya dihujat. Menterinya kurap. Menterinya ga punya otak. Tapi saya tak ambil hati. Saya dibilang kelainan jiwa. Itu dari blogger Afrika. Dalam blog itu saya dibilang, ada dua orang sinting di dunia. Pertama Ahmadienejad. Kedua Siti Fadilah Supardi (Siti tertawa).

Anda stress menghadapi pers Barat yang bertubi-tubi itu?

Setelah berita dari Australia itu meledak, saya ke Lombok untuk menenangkan diri dalam sehari. Saya merenung, bencana apalagi yang datang ke saya setelah Flu Burung. Tapi hanya sehari saya di Lombok, ada 700 sms (pesan pendek) yang masuk. Semua isinya mendukung saya. Saya belum pernah dapat sms misanya dari Habib Riziq, kemudian Majelis Mujahidin, Egy Sujana, tokoh-tokoh Islam yang tidak saya kenal sebelumnya, Kristen, dan macem-macem pokoknya.

Tentang barter Alutsista kalau buku ditarik?

Pers lagi-lagi memplintir. Sebenarnya, (alutsista) yang dimasud itu hanya tenk bekas dari China saja.

Apa rekasi AS sendiri ke Anda?

Biasa saja. Dalam minggu inikan Menteri Pertahanan AS datang ke Indoneia. Dia juga heran mengapa ada kabar data sequencing H5N1 Indonesia sampai ke Los Alamos. Mentri Kesehatan Amerika, (Siti Fadilah sambil bertpuk dada), dukung saya. Sebelumnya saya juga was-was dipanggil ke Istana karena 6 orang bule (Senator Amerika) ingin ketemu saya. Ternyata tak saya duga. Mereka kalau datang ke Indonesia sambil busung dada, tapi yang saya lihat jalannya malah agak bungkung sedikit. Jadi, saya melihat diantara mereka (AS) juga ada dua kubu. ”

KUTIPAN:

“Aku ga tahu hubungannya kok bisa ke Alamos? Masa aku ga boleh bertanya kemana barangku. Kepada siapa saya bertanya? Ga ada. Sekali lagi, WHO ditanya ga tahu. Ini nih..dia…( skandal) hingga sampai ke Los Alamos. Menurut saya ini gila.”

“Jangankan sebelum launching, waktu diplomasi, Indonesia dibilang teroris, dan jangan-jangan Menteri Kesehatannya itu teroris. Ini serius. Saudara-saudara saya pake jilbab semua. Diboleg-bloger saya dihujat. Menterinya kurap. Menterinya ga punya otak. Tapi saya tak ambil hati. Saya dibilang kelainan jiwa. Itu dari blogger Afrika. Dalam blog itu saya dibilang, ada dua orang sinting di dunia. Pertama Ahmadienejad. Kedua Siti Fadilah Supardi”.

Memberitakan Informasi terupdate untuk Rekan Milist


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: