Oleh: tettystak | April 3, 2008

KisaH ArTis DaDaKan …

Apa yang diharapkan tidak sesuai dengan yang terjadi ....
Semoga Bermanfaat dan berpikirlah dulu sebelum melangkah ...... dan mengambil kesimpulan .....
😛

Beettuullll.......kita iseng ajah bikin itung-itungan kasar......biaya 1 sms kita patok ajah 200 perak .....jika 1 SMS biaya menjadi 2.000, maka ada keuntungan tersembunyi 1.800 perak / SMS. Nah.......nilai 1.800 itu kita bagi 2 untuk operator dan untuk penyelenggara (bandar), 60% untuk operator dan 40% untuk bandar (ini asumsi asal-2an, prosentase mungkin bisa lebih besar si bandar)......maka si bandar akan mempunyai "untung bersih" sekitar 720 perak. Jika 5% aja dari seluruh penduduk indonesia kirim SMS premium....maka kebayang kan berapa besar untung si bandar ??

Karena takut tereliminasi, otomatis para calon artis akan berusaha kirim SMS sebanyka-banyaknya, inilah contoh hasil dari SMS Premium.

Kisah Selebriti Gagal, Kompas/Yuniadhi Agung / Kompas Images.
Ian Kasolo, mantan peserta kontes Dangdut Mania TPI, kini bekerja mengantarkan katering di kompleks perumahan di kawasan Depok.Minggu, 30 Maret 2008 | 01:31 WIB : Budi Suwarna Setahun yang lalu, hampir setiap akhir pekan, Muhammad alias Ian Kasolo (39) tampil di televisi sebagai "selebriti" yang tampak glamor. Kini, dia terpaksa bekerja serabutan sebagai pengantar makanan di sebuah usaha katering rumahan.

Ini bukan cerita sinetron, namun sebuah kisah nyata. Ian Kasolo yang dulu sempat menjadi ikon acara kontes menyanyi Dangdut Mania I di stasiun TPI bersama Siti Pijat, Ju pri Asong, dan Agus Kenek, kini jauh dari dunia glamor. Hidupnya bisa dibilang terkatung-katung tanpa pekerjaan dan uang.

Kini, Ian menumpang di rumah Ucok Koki yang juga peserta Dangdut Mania I. Di rumah ini, dia membantu istri Ucok yang menjalankan usaha katering rumahan. Setiap pukul 05.00, Ian bangun dan membantu memasak. Sekitar pukul 07.00, dia keliling mengantarkan rantang berisi makanan pesanan ke pelanggan. "Ya, beginilah kegiatan saya. Yang penting saya punya tempat berteduh dan bisa makan," ujar Ian. Sebelum ditampung di rumah Ucok Koki, Ian sempat menggelandang dan tidak makan dua hari karena tidak mempunyai uang.

Bagaimana kehidupan Ian berubah drastis dalam setahun? Semua ini bermula ketika Ian melihat iklan kontes menyanyi yang seolah-olah bisa menyulap siapa saja menjadi artis terkenal dengan cepat. Ian yang merasa punya bakat menyanyi dangdut dan akting memutuskan ikut salah satu kontes itu. Pilihannya jatuh ke acara Dangdut Mania I.

Singkat cerita, bujangan asal Solo, Jawa Tengah, itu lolos audisi dengan menyingkirkan ribuan peserta dan berhak mengikuti kontes di Jakarta. Karena mimpi menjadi artis begitu besar, pemuda lulusan SMA ini rela meninggalkan pekerjaan tetap sebagai kurir di bank swasta di Solo yang memberinya penghasilan sekitar Rp 1 juta per bulan.

Awalnya semua berjalan sesuai mimpi. Di Jakarta, Ian dan 19 peserta Dangdut Mania lainnya diperlakukan layaknya artis. Produser Dangdut Mania I mengubah nama Muhammad menjadi Ian Kasolo karena wajahnya dianggap mirip vokalis band Radja, Ian Kasela. Penampilannya pun dipermak. Rambutnya dicat kuning acak. Dia juga diberi kostum dan kaca mata hitam seperti yang biasa dikenakan Ian Kasela. "Kami juga diperlakukan seperti raja. Kami tinggal di sebuah vila. Mau makan di restoran mana saja tinggal bilang," ujar Ian mengenang.

Kemewahan semacam itu baru pertama kali Ian rasakan. Pasalnya, kehidupan Ian selama di Solo jauh dari mewah. Dia tinggal berjejalan di sebuah rumah petak berukuran 3 x 4 meter persegi bersama ibu, kakak, dan seorang keponakan.

Pengalaman bersentuhan dengan kemewahan itulah yang membuat Ian semakin bertekad untuk menjadi artis terkenal dan dia merasa pintu itu terbuka baginya. "Bayangkan, setiap kali saya nyanyi, orang- orang memanggil nama saya. Ketika promosi, orang rebutan minta tanda tangan dan foto saya. Saya juga masuk koran," kata Ian yang terkenal dengan "goyang suster ngesot".

Ian makin berbunga-bunga ketika mendengar isu pemenang Dangdut Mania I akan dikontrak menjadi artis TPI. "Saya semakin bertekad memenangi kontes ini. Karena itu, tiap minggu saya ngebom SMS," katanya.

Ngebom SMS yang dimaksud adalah mengirim SMS sebanyak-banyaknya untuk dirinya sendiri agar perolehan suaranya terdongkrak. "Saya bisa menghabiskan uang Rp 5 juta untuk beli voucher pulsa telepon setiap minggu. Kalau ditotal, selama acara ini saya habis Rp 30 juta," kata Ian yang memperoleh uang sebanyak itu dari pinjaman keluarga dan lintah darat. Hal itu dilakukan juga peserta lain. Ida Nyonya mengaku menghabiskan Rp 20 juta untuk ngebom. Hasilnya, nihil. Ian dan Ida akhirnya tereliminasi juga. "Kalau tahu jadinya begini, saya tidak akan menghabiskan uang jutaan. Sekarang terkenal tidak, terlilit utang iya," ujar Ian.

Manajer Humas TPI Theresia Ellasari mengatakan, pihaknya telah berkali-kali berpesan kepada peserta kontes menyanyi agar tidak usah berlomba mengirim SMS untuk dirinya sendiri. "Itu tidak ada gunanya sebab pemenang ditentukan SMS kiriman pemirsa yang jumlahnya jutaan," katanya.

Korban mimpi ...
Harapan menjadi artis terkenal sempat muncul lagi ketika Ian diajak TPI main sinetron, menyanyi pada acara off air dan jadi bintang iklan dengan bayaran Rp 500.000-Rp 1.500.000. Namun, setelah itu masa-masa manis menjadi selebriti benar-benar berakhir. Tidak ada lagi order manggung dari TPI.

Setelah itu, Ian kadang ikut manggung di kampung-kampung bersama Ucok Koki atau Pardi Hallo, peserta Dangdut Mania I yang sekarang menjadi penyelenggara konser dangdut kecil-kecilan. Bayaran yang diterima Ian sekitar Rp 100.000-Rp 200.000 sekali tampil. Namun, order seperti ini tidak selalu datang tiap minggu.

"Saya sempat frustrasi dan mau bunuh diri. Mau pulang ke Solo saya malu karena keluarga dan teman-teman sudah telanjur menganggap saya sebagai artis sukses yang banyak duit," katanya.

Nasib serupa juga dialami Jupriadi alias Jupri Asong dan Ida Nyonya. Jupri mengaku, setelah menjadi juara II Dangdut Mania I, dia berhenti mengasong. "Kata teman-teman, saya tidak pantas lagi mengasong sebab saya sudah jadi artis," ujarnya.

Jupri Asong pun mencoba mengandalkan hidup dengan menyanyi. Namun, undangan menyanyi belum tentu muncul satu bulan sekali dengan bayaran paling besar Rp 500.000. "Akhirnya, uang hadiah yang jumlahnya sekitar Rp 28 juta habis untuk makan keluarga. Sekarang saya benar-benar miskin. Mau ngasong lagi, saya tidak punya modal," ujar Jupri yang harus menghidupi istri dan tiga anaknya.

Kini, Jupri berniat menjual rumah tipe 21 miliknya di Tangerang yang merupakan harta dia satu-satunya saat ini. Uangnya akan digunakan untuk modal berdagang lagi. "Saya benar-benar kapok ikut acara semacam ini. Saya kira, pemenangnya akan diorbitkan jadi artis."

Theresia mengatakan, TPI tak pernah berjanji mengorbitkan peserta Dangdut Mania I menjadi artis. "Kami hanya memberi kesempatan kepada mereka untuk tampil di televisi. Kalau mereka disukai penonton dan kemudian jadi artis, itu adalah bonus," katanya.Ya, inilah drama dari sebuah kebudayaan instan yang terus direproduksi televisi melalui kontes menyanyi, idola-idolaan, mama-mamaan, dan juga sinetron. Sebuah kebudayaan yang selalu memberikan mimpi bahwa sukses dan popularitas bisa diperoleh dalam waktu singkat.

Sialnya, karena gempuran mimpi-mimpi itu kian gencar, banyak orang tidak bisa membedakan mana yang mimpi dan mana yang nyata. Kisah Ian Kasolo, Jupri Asong, dan Ida Nyonya hanyalah contoh kecil.


Responses

  1. makanya terus terang saya juga kurang suka klalu anak saya menonton hal-hal seperti itu.pentas anaklah,idol2an atau apapun bentuknya,takut anak saya terbuai memimpikan sesuatu yang baik menurut mereka tanpa mau berusaha.

  2. Pengen jadi artis dadakan nih!
    Simak video aku ya?
    Nih linknya :
    1. http://www.youtube.com/watch?v=ImQai5Jtb8M
    2. http://www.youtube.com/watch?v=uWoIxfF9vR4&feature=related
    Atau anda kunjungi situs Youtube, lalu dikolom pencarian masukkan nama ” Wayan Widnyana ”
    ok?
    Thx


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: