Oleh: tettystak | Mei 15, 2008

EV-71 Belum Diantisipasi ….

Mohon diantisipasi sebelum menjalar ke negara kita ….
http://www.seputar- indonesia. com/edisicetak/ sumatera- utara/ev- 71-belum- diantisipasi. Html

MEDAN (SINDO) – Meski Enterovirus EV-71 sudah menyinggahi Singapura, tak ada penjagaan berarti di Balai Karantina Kesehatan, Polonia, Medan.

Bahkan,kemarin tak ada dokter jaga di ruang karantina kesehatan Terminal Kedatangan Internasional. Koordinator Kesehatan Pelabuhan Medan Wilayah Kerja Polonia Syarifuddin Saragih menyatakan,belum ada perintah dari atasannya terkait virus EV-71. Bahkan, Syarifuddin mengaku tidak mengetahui virus tersebut. ’’Waduh, internet di sini mati, enggak tahu saya, virus apa itu,” ujar Syarifuddin di Medan kemarin.

Dia menyatakan tak memiliki pekerjaan di bandara itu,kecuali ada penyakit baru di negara yang memiliki rute dari Bandara Polonia.Virus SARS pada 2002 lalu merupakan pekerjaan terakhir Balai Karantina Kesehatan Polonia.’’ Waktu itu pun peralatan datang setelah virus SARS menghilang.Kendala yang dihadapi selama ini adalah sulitnya koordinasi antarinstansi,” kenangnya.

Menurut Syarifuddin, ada dua dokter di ruangan karantina Terminal Kedatangan Internasional Bandara Polonia Medan.’’Mereka di sana jaga bergantian,”ujarnya. Pantauan SINDO, tidak ada seorang pun berjaga di ruangan berukuran 4 x 4 meter itu.Peralatan yang ada hanya alat ukur tensi,satu tempat tidur, dan meja.

“Dokternya lagi pergi,” ujar Syahrial, seorang pekerja di Terminal Kedatangan Internasional. Dia menambahkan, ruang karantina kesehatan sering kosong. ’’Enggak tahu apa fungsi ruangan itu,”ujarnya. Kepala Administratur Bandara Polonia Yuli Sudoso menyatakan,seharusn ya dokter selalu siaga di ruangan karantina kesehatan. Namun, Yuli juga mengaku mereka belum membahas mengenai virus EV-71.Padahal, penerbangan Singapura–Medan lebih dari dua kali setiap hari.

Dia menambahkan, pihak Bandara Polonia akan meningkatkan pengawasan terhadap masuknya virus EV-71. ’’Rencananya, Senin (12/5), kami akan rapat, termasuk dengan Karantina Kesehatan,” ujarYuli. Walau belum memiliki peralatan, Yuli mengakui pengawasan akan dilakukan dengan visual. ’’Pertama ya kami lihat dari dokumennya, apakah seseorang menderita penyakit.

Setelah itu, kami mengamati secara visual. Jika mencurigakan, akan dikarantina ke laboratorium kesehatan,” tuturnya. Menanggapi hal tersebut, anggota DPD Parlindungan Purba menyatakan, penjagaan di Balai Karantina memalukan. ’’Virus EV-71 sudah membawa banyak korban di China. Kabar terakhir, virus tersebut sudah sampai di Hong Kong.Seharusnya, Bandara Polonia sebagai bandara internasional harus mempunyai inisiatif sendiri,” tandasnya.

Dia menambahkan, petugas Karantina Kesehatan setidaknya lebih siaga mengantisipasi secara visual.’’Kanbisa melihat para penumpang. Sebab, virus tersebut masih bisa dideteksi dari penampakan fisik,”ujar Parlindungan. Meski telah menewaskan 20 anak di China,WHO belum menetapkan virus usus Enterovirus 71 untuk diwaspadai secara internasional.

Namun, Parlindungan menyatakan bahwa Balai Karantina harus terus waspada. Dia menambahkan, pihak terkait harus menjadikan virus flu burung sebagai pelajaran.’’ Flu burung bukan dari negara kita.Namun akhirnya, korban yang paling banyak di negara kita,”tandasnya. (watson manalu)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: