Oleh: tettystak | November 3, 2008

Bahaya Benjolan Kecil

Dear Friends,

Aku mau sharing pengalaman adik-ku nih. semoga bermanfaat bagi semua yang baca.

Adikku mulai merasakan ada benjolan di payudara kiri sekitar awal 2003.Pada bulan mei 2003, dia periksa ke Dr. Sutjipto, ahli bedah di RS Dharmais,Slipi. Setelah di USG, dr. bilang tidak apa-apa, itu hanya berupa kelenjar air susu yang membengkak yang mana nantinya akan menghilang setelah menikah, punya anak dan menyusui. (catatan: kesalahan kami adalah tidak melakukan pemeriksaan ke dokter lain karena logika mengatakan seharusnya dokter di RS Dharmais yang memang special untuk kanker tidak mungkin salah mendiagnosis) .

Bulan Januari 2004, adikku menikah. Juni 2004, dia mengandung anak pertama. Oktober 2004 (usia kandungan +- 4 bln) masih sempat kontrol ke Dr. sutjipto di Dharmais (kali ini tidak di USG), diagnosis Dokter masih sama seperti diagonis pertama. Anak pertama lahir awal April 2005, produksi air susu sedikit hanya cukup untuk menyusui selama 3 bulan. Adikku merasa benjolan membesar, bukannya hilang seperti kata dokter. Bulan Nov 2005 (kondisi hamil anak ke-2 bulan ke-3), adikku kembali konsul ke dokter yang sama di Dharmais.

Hasil USG benjolan berukuran 1,89 x 1,8 x 1,76. Diagnosis dokter berubah menjadi tumor kelenjar lemak. Disarankan untuk dilakukan pengangkatan tumor sebelum usia kandungan 6 bln dgn alasan lewat bln ke-6, hormone sudah mulai memproduksi air susu sehingga akan mempersulit proses penyembuhan luka. Dokter tidak tahu tingkat keganasan tumor, hal ini akan dicek setelah dilakukan pengangkatan.

Mengingat adikku sedang hamil, kita takut pembiusan pada saat operasi akan mempengaruhi pertumbuhan dan kesehatan janin, selain itu alasan dokter jangan lewat bl ke-6 adalah untuk proses penyembuhan luka,maka kita memutuskan untuk menunda operasi setelah bayi lahir. (Catatan: dokter. tidak pernah mengatakan bahwa kehamilan dapat memicu sel-sel jahat tersebut bekerja lebih cepat).

Bulan Maret 2006, kebetulan adikku ke Singapura, atas desakan suaminya, dia melakukan pemeriksaan di Mt.E. Oleh Dr Wee Siaw Bock, ahli bedah spesialis kanker payudara, dilakukanlah “neddle test” yang katanya sih semacam pengambilan cairan di benjolan dengan menggunakan jarum super halus untuk ditest di lab.Hasil lab: 90% mengarah ke kanker ganas.

Untuk lebih meyakinkan lagi disarankan untuk dilakukan biopsi. Adik saya sempat shock, tapi setelah diyakinkan oleh dokter bahwa biopsy tidak akan membuat kanker itu menyebar seperti yang dikhawatirkan oleh orang awam, maka adikku setuju, maka dilakukanlah “trucut biopsi”. Hasil biopsi : kanker payudara ganas dengan tingkat penyebaran 3 of 3 berdasarkan “Bloom & Richardson Grade”. (Catatan: ada juga dokter yg bilang bahwa biopsi dapat memicu sel kanker bekerja lebih cepat dan menyebar)

Saran dokter adalah secepatnya dilakukan pengangkatan dengan beberapa opsi berikut:

Opsi1: angkat keseluruhan payudara, bayi dipertahankan. Kemoterapi baru dilakukan setelah bayi lahir.

Opsi2: tunggu sampai bayi siap dilahirkan (+- 35 minggu kehamilan), dilakukan caecar sekaligus operasi penangkatan benjolan saja, payudara dipertahankan, langsung menjalani kemoterapi. (Catatan: usia kandungan pada saat itu +- 27 mgg) Kita mencoba mencari pendapat dokter lain. Oleh salah seorang kenalan, direferensikan Dr. Lie, kepala bagian bedah RS Husada. (Dr. Lie sendiri adalah spesialis bedah jantung).

Aku membawa hasil lab di Sing ke Dr. Lie sedangkan adikku konsul by phone (adikku tinggal di jambi setelah menikah). Menurut Dr. Lie, seharusnya benjolan itu sudah dibuang dari pertama kali muncul karna benjolan apapun dipayudara bisa membahayakan dikemudian hari apalagi jika sedang hamil, hormone-hormon di tubuh akan mempercepat proses perkembangbiakan sel jahat.

Dari konsul ini Dr. Lie memberikan 4 opsi:

1. tunggu bayi lahir normal baru dilakukan tindakan terhadap benjolan (opsi ini tidak direkomendasikan)

2. angkat payudara, bayi dipertahankan, tunggu bayi lahir baru kemoterapi (juga tidak direkomendasikan)

3. bayi dilahirkan prematur secara caecar sekaligus angkat payudara,dilanjutkan kemoterapi (harus konsultasi dgn dr.kebidanan mengenai kesiapan bayi untuk dilahirkan prematur)

4. dilakukan “frozen section”, yaitu operasi dilakukan oleh 1 team dokter, yang terdiri dari bedah,dokter kebidanan, ahli patologi, dan lain-lain.

pertama dilakukan penangkatan benjolan, kemudian langsung dianalisa oleh patologi untuk meyakinkan hasil biopsi. Jika sudah menyebar, payudara langsung diangkat dan bayi lahir prematur. Jika belum menyebar, payudara dan bayi dipertahankan.

Dr.Lie menyarankan adikku untuk datang ke jakarta untuk konsul langsung, keputusan jadi tidaknya operasi adalah hak adikku, tidak ada keharusan untuk operasi di Husada.

Beberapa hari kemudian adik saya ke jakarta untuk pemeriksaan lebih lanjut dengan Dr. Lie. Hasil USG benjolan menunjukkan bahwa benjolan lebih besar dari hasil USG sebelumnya.Hasil USG Janin menunjukkan bahwa bayi belum mampu untuk bertahan hidup jika dilakukan caecar pada saat itu. Hasil konsultasi Dr. Lie dengan teamnya, menganjurkan pengangkatan payudara secepatnya, kemoterapi dilakukan setelah janin cukup matang untuk dikeluarkan secara caecar. (Catatan: opsi ini sebenarnya tidak direkomendasikan oleh Dr. Lie tetapi melihat hasil USG yang menunjukkan benjolan membesar, ditakutkan jika ditunggu, akan makin menyebar. alasan Dr mengambil opsi ini: dengan membuang induknya lebih dulu, sel-sel yang tersisa akan terhambat perkembangannya.

Ini akan memberi kita waktu sampai bayinya cukup safe untuk caecar. Adikku memilih untuk bertahan sampai bayinya cukup umur, karna takut jika dilakukan operasi payudara sekarang, janin akan terpengaruh pembiusan.

Sekarang sudah lewat 3 minggu, adikku rencana untuk konsul ke kebidanan 2 minggu lagi, jika janin safe, maka akan di lakukan operasi. Sementara menunggu kami hanya bisa berdoa.

Kesimpulan yang aku dapat dari pengalaman ini adalah: benjolan di payudara, sekecil apapun, walaupun oleh dr dikatakan tidak berbahaya, sebaiknya segera angkat karena dikemudian hari dia bias berubah menjadi jahat. Mumpung masih kecil, proses operasi juga tidak susah.

Tidak ada kepastian apakah biopsi itu dapat membuat sel kanker menyebar lebih cepat atau tidak. Ada dokter yang bilang ya, ada juga dokter yang bilang tidak. tapi satu hal yang pasti “neddle test” tidak membuat sel kanker menyebar.

Kehamilan dapat memicu sel kanker bekerja lebih aktif. Jangan percaya hanya pada pendapat 1 dokter, selalu cari pendapat dokter lain pada setiap jenis kasus penyakit. karena 1 pendapat saja dapat menyesatkan kita seperti kasus adikku ini.

Bagi yang sudah meluangkan waktu membaca, terima kasih dan tolong disebarluaskan ke teman, saudara, pacar, ibu, istri ataupun putri anda. Jangan sampai mereka terlena oleh diagnosa dokter.

Bilrain(rain_na70@yahoo.com)

Kuli Bangunan

Office : Cempaka Mas 20-21 JKT Pusat

Home : Bratang Binangun Surabaya

HP : 081803090797


Responses

  1. betul. benjolan apapun di mamae harus dibunag, walau itu cuma FAM. semoga tetap tabah Ibu…salam sehat selalu

  2. Aku sih bil@ng di memo aj

  3. iya…angkat sj yg 1 nya sblm pndh k payudara yg 1 nya… kn msh ada payuadar yg 1nya klw dokter izinkn bayix ut diberi ASI….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: